Back to Jadoel

31 Mar 2014

Julukannya Kampung Adat, masyarakatnya dikenal jadoel - jaman dulu. Rumah penduduk masih berdinding bilik beratap ijuk. Luas kampungnya hanya 1,5 hektar, terbagi menjadi perumahan, persawahan, perkebunan, kolam, hutan, dan sungai. Selebihnya ada toilet umum untuk MCK warga, 1 masjid, 1 balai adat, dan jalanan yang masih natural. Sekolah? numpang di kampung sebelah.

Sejauh mata memandang, semua tampak sederhana. Bahkan menimbulkan pertanyaan: bagaimana bisa manusia hidup dengan -listrik 5 watt, tungku untuk memasak, tivi hanya 1-2 yang punya, MCK di toilet umum, menumbuk padi dengan alu, berkawan pepohonan di hutan, pendidikan kebanyakan SMP, tidak kenal internet apalagi Facebook dan Twitter- di jaman modern, di era teknologi mutahir, di masa dunia dalam genggaman 5 jari?

Tapi setelah saya menaiki lebih dari 400-an anak tangga, menelusuri jalan setapak di persawahan, memasuki kawasan perumahan, menghirup hembusan udara dari arah hutan, dan melihat hamparan sungai serta kolam ikan warga disana, barulah saya tahu jawabannya. Ke-jadoel-an mereka telah membuat kampung tetap asri, budaya tetap lestari, hidup damai dan bahagia dengan kesederhanaan.

Benarkah daerah semacam itu masih ada di Indonesia? Benar. Ada. Kampung Naga, namanya.

Jadoel vs Modern

Anda sepakat dengan saya bila mengatakan, keadaan tersebut sangat kontras dengan masyarakat kota yang katanya modern. Kontras dengan daerah yang katanya pusat perekonomian. Kontras dengan wilayah yang katanya pusat kebudayaan, kontras dengan negara yang katanya pusat peradaban. Kontras dengan orang atau pihak yang selama ini berkoar ‘cinta lingkungan‘, ‘cinta budaya’, cinta Indonesia’.

Di tempat tinggal masyarakat yang “katanya ini itu” itu, perumahan indah berderet tanpa celah. Gedung-gedung mewah menjulang ke angkasa. Jalanan aspal-beton mulus adanya. Sekolah dan kampus sangat trendi dan bergengsi.

Mainannya smartphone, tablet, dan semua hal berbau internet. Urusan perut dan mulut? tinggal menepi, minimarket berceceran menjajakan makanan dan minuman serba instan. Amboi, nyamannya hidup.

Di balik kekontrasan yang “katanya ini itu” itu, juga ada kekontrasan lain. Merekalah yang hidup di tepi sungai, di pinggir rel kereta, di kaki gunung, di dekat sawah, di sela hutan, di bibir pantai, dan di mulut laut.

Alih-alih memimpikan kenyamanan hidup, mereka lebih sibuk mencari sesuap nasi. Sadar atau tidak, sebagian kehidupan mereka seperti tampungan limbah dari masyarakat yang “katanya ini itu”.

Lihat saja. Orang dari planet yang “katanya ini itu”, naik mobil keren tapi membuang puntung rokok di tengah jalan. Dandanan rapi tapi melempar bekas jajan sembarangan. Imbasnya? Rejeki untuk pemulung, memang. Tapi malang untuk pemukiman yang kebanjiran, taman yang hilang keindahan, jalanan yang tak lagi bersih, sungai yang tidak lagi jernih, lingkungan yang tak sedap dipandang.

Meski tak dapat dipungkiri, orang-orang yang hanya mencari sesuap nasi -yang tinggal di tepi sungai, di pinggir rel kereta, di bibir pantai, dan di mulut laut, juga turut andil dalam imbas “malang” itu.

Berikutnya mari kita tengok hutan. Asap kebakaran hutan baru-baru ini berhasil membuat pegiat #MelawanAsap memetisi Presiden SBY agar mencabut ijin perusahaan pembakar hutan. Netizen yang terhubung dengan jaringan di seluruh dunia turut menghujat. Negara tetangga yang dekat dengan lokasi pun menuntut tanggung jawab dari Indonesia.

Padahal, siapa yang menikmati keuntungan perusahaan pembakar hutan? Ya orang-orang yang “katanya ini itu” itu tadi. Mana mungkin penghuni hutan yang saban hari hanya mencari dahan dan ranting tua yang lepas dari pohonnya, mampu punya perusahaan. Mereka cukup jadi korban saja, sesak napas menghirup asap tebal yang terus berulang sejak 1997.

Sebelum kepulan asap terakhir itu, Indonesia diuji dengan letusan Sinabung, Kelud, dan batuknya si Slamet. Memang, semua seolah sepakat menganggap itu bencana alam. Tapi, kalau kita sejenak mau memahami, bukankah bencana itu bentuk komunikasi alam dengan manusia? Tidak hanya tertuju pada manusia yang hidup di kaki-nya, tapi semua dari kita.

Bagaimana dengan laut? Tidak jauh beda. Penangkapan ikan dengan bom, limbah pabrik yang dibuang ke laut, peralatan modern yang dipunyai orang dari “katanya ini itu”, sukses membuat nelayan kecil meringis. Sering hampir nangis.

Pada 2009 lalu ada kabar dari salah satu pantai di Garut sana, telah terjadi eksploitasi pasir besi. Berita yang beredar memang katanya ijin perusahaan yang mengeksploitasi itu akan dicabut oleh Bupati. Tapi belum lama ini salah satu kawan berkunjung ke sana, tidak sengaja mendengar keluhan warga setempat terkait proyek pasir besi yang mengancam ekosistem pantai. Sayangnya, “kalau kami angkat bicara, bisa dicekal preman”, kata warga. Jadi tak banyak informasi yang kawan saya dapatkan.

#IngatLingkungan, Back to Jadoel

Pemaparan di atas memang belum cukup mengulas semua kekontrasan Kampung Naga dengan masyarakat modern. Tidak bermaksud membandingkan. Tidak bermaksud menjudge bahwa yang ini benar, yang ini salah. Tidak juga sedang menunjukkan keburukan satu dan mengunggulkan yang lain.

Tapi setidaknya dari realita itu, kita mau bercermin. Mau bermuhasabah. Mau berevaluasi. Setidaknya, mau #IngatLingkungan saja dululah.

Saya mencoba bertanya pada diri sendiri. Enak tidak ya, hidup kebanjiran? Enak tidak ya, sesak napas karena asap? Enak tidak ya, mencium bau busuk sampah berceceran? Enak tidak ya, siang panas sekali malam dingin sekali?

Enak tidak ya, hujan sejam - reda dua jam - hujan lagi, begitu seterusnya? Enak tidak ya, kejatuhan hujan abu? Enak tidak ya, ikan laut yang dimakan ternyata beracun? Enak tidak ya, jalanan gersang tanpa pohon? Enak tidak ya, enak tidak ya, enak tidak ya.. Silahkan Anda lanjutkan.

Jawaban saya, ternyata tidak enak. Sama sekali tidak enak. Bagaimana dengan Anda?

Jelas terlihat lebih enak di Kampung Naga. Air jernih, udara segar, rumah sejuk, hidup sehat. Setelah ini mungkin terbesit di benak Anda untuk bilang pada saya: ya sudah sana tinggal saja di Kampung Naga!

Kalau begitu, ijinkan saya balik bilang: kalau Kampung Naga bisa begitu asri, kenapa kampung kita tidak bisa? Kenapa kota kita tidak bisa? Kenapa daerah kita tidak bisa? Kenapa negara kita tidak bisa?

Kampung Naga kan kecil. Jangan bandingkan dengan Indonesia. Ya, memang. Penduduk Kampung Naga hanya 330-an orang dari sekitar 113 KK (2011). Tapi kalau dari kampung yang kecil saja bisa, kenapa Indonesia dengan ratusan juta jiwa ini tidak bisa?

Terlalu banyak orang, susah mengaturnya. Benar. Tapi bukan berarti sedikit orang itu mudah diatur. Saya dengar dari Ketua Adat Kampung Naga, “Kebijakan pemerintah setempat selalu difilter. Bila kebijakan itu tidak mengganggu, maka bisa diterima dan diterapkan di Kampung Naga.” sewaktu berkunjung ke sana.

Ia juga mengatakan, masyarakat memiliki kepercayaan untuk menghormati leluhur termasuk wasiat untuk menjaga alam. Itulah mengapa mereka menjaga hutan keramat dan melestarikan adat.

Hal ini sejalan dengan kepercayaan masyarakat Kampung Sinaresmi, Sukabumi. Tahun lalu, sembari menjamu rombongan mahasiswa yang penelitian ke sana -termasuk saya, Ketua Adat Sinaresmi mewanti-wanti, “Jangan ada satu pun nasi yang jatuh atau tidak dimakan. Nanti Dewi Sri nangis.” Dewi Sri dipercaya sebagai Dewi Padi.

Bagi masyarakat modern, mungkin kepercayaan-kepercayaan itu dianggap jadoel, tidak logis, tidak masuk akal. Tidak masalah kita mengabaikan ke-jadoel-an itu. Tapi hal yang perlu kita petik adalah: kalau dari ke-jadoel-an saja bisa membuat alam tetap sehat, kenapa ke-modern-an kita justru membuat alam sakit?

Mau #IngatLingkungan dan Mau Peduli

Setelah kita #IngatLingkungan, sekarang saatnya kita peduli. Jangan tunggu seluruh es di kutub itu mencair. Jangan tunggu Indonesia tenggelam. Jangan tunggu semua hutan kebakaran. Jangan tunggu flora fauna khas Indonesia ludes. Jangan tunggu semua sungai tak bernyawa, langit menangis, gunung mengaung, laut cemberut. Jangan tunggu lagi!

Lupakan perdebatan jadoel dan modern. Saya yakin Anda dan kita semua, bukan orang yang buta akan penderitaan dan kesakitan lingkungan selama ini. Saya juga yakin kita semua bukan orang yang tidak tahu kalau, buang sampah sembarang itu salah. Menebang dan membakar hutan sembarangan itu salah. Mengeksploitasi pantai dan laut itu salah. Menggunduli gunung itu salah. Mencemari udara itu salah. Dan, me-me-me yang lain, saya yakin kita tahu itu semua.

Saya juga yakin, masyarakat Indonesia bukan masyarakat yang bodoh, yang tidak tahu sama sekali tentang bagaimana melestarikan alam. Bukankah sejak SD kita sudah diajari “Buanglah sampah pada tempatnya”? Masa sampai S2, S3, masih tidak paham?

Bisa jadi ada faktor lain yang menyebabkan kita semua lalai. Meyebabkan kita, sengaja atau tidak, menutup mata, menutup telinga, menutup hati, untuk peduli pada lingkungan.

Faktor apa itu? Banyak sekali. Tanpa saya sebutkan, saya yakin Anda bisa menjawab sendiri.

Permasalahan kemudian, bukan lagi siapa tahu siapa tidak. Siapa salah siapa tidak. Siapa bodoh siapa tidak. Tapi mau atau tidak kita kita bersama-sama menyembuhkan penderitaan lingkungan?

Orang-orang di Kampung Naga itu, di Kampung Sinaresmi itu, tidak pernah koar-koar #SaveOurPlanet, #IngatLingkungan, #SaveEarth, #GlobalWarming, #MelawanAsap, #BijakKertas dan sederet hastag lain. Mereka juga tidak pernah bikin aksi macam-macam. Cukup membuang sampah pada tempatnya, memanfaatkan hutan sekaligus menjaga, memelihara ikan di kolam, tidak pernah mengganggu sungai, dan hal-hal kecil lain.

Nah, kalau mereka -yang katanya jadoel itu- bisa memulai dari aksi kecil, kenapa kita -yang mengaku gaul- tidak mencoba? Padahal jelas-jelas ada WWF dan organisasi, komunitas, atau pihak-pihak pecinta lingkungan yang senantiasa mengajak kita untuk peduli, peduli, dan peduli pada lingkungan.

Saya percaya, orang-orang yang mau peduli itu masih ada. Baik yang dinyatakan lewat berbagai aksi, disuarakan lewat tulisan di media massa dan blog, atau tidak pernah dikoar-koarkan sama sekali tapi langsung turun tangan.

Sekecil apa pun kemauan itu, bila kita terus memupuknya, saya yakin bisa jadi habit, kebiasaan, tradisi, budaya yang akan berbuah kepedulian secara masiv. Seperti saya yang diam-diam menyembunyikan sampah di tas jika tidak menemukan tempat sampah saat di jalan.

Terakhir, kepada Yang Terhormat calon legislatif dan pemimpin bangsa di pemilu 2014, sudilah kiranya Anda tidak hanya mau #IngatLingkungan. Tapi justru menjadi teladan untuk peduli pada lingkungan. Minimal, tidak menyakiti pohon dengan paku untuk memajang foto narsis Anda.***

Referensi: dari sini, sana, dan situ.
Sumber foto: di sini dan sana


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post