Kedamaian Senja

29 Mar 2014

senja Source: Here

Senja secantik ini sangat sayang kalau diabaikan. Lebih sayang lagi kalau dipandang mendung. Hei, kawanan burung itu cantik sekali. Membentang sayap, membersamai mentari yang hendak tenggelam. Belalang dan kupu juga tak tinggal diam. Selagi masih ada sinar, mereka asik bercengkrama dengan bunga dan ilalang.

Sayangnya, lebih sayang lagi, kau disini merusak sunyiku.

Tidak. Aku hanya ingin menikmati mega merah melukis langit. Menikmati warna yang mendamaikan.

Apa bagusnya warna itu?

Sudah kubilang, warnanya mendamaikan.

Tch.. Bicara apa kamu ini.

Jingga, merah, kuning emas, biru muda, putih, orange, semua berpadu jadi satu di angkasa. Bukankah itu indah sekali? Coba tegakkan wajahmu, lihat lekat-lekat warna-warna itu. Apa yang kau rasakan?

Tidak ada.

Kalau begitu coba tutup matamu. Rasakan angin sayup-sayup membelai wajah. Membelai pipi, hidung, dan kening. Biarkan angin itu menerbangkan tiap helai rambut di kepalamu. Hirup udara dalam-dalam, tenangkan hati dan pikiran.

Hiks..

Biarkan. Jangan ditahan. Biarkan bulir beningmu mengalir, terbang bersama angin yang membelai wajahmu. Bulir bening itu, wujud lain dari semua rasa yang kau rasa. Wujud lain dari semua kata yang tak terkata. Wujud lain dari hati yang kau tutupi.

Barangkali bulir bening itu juga yang menghalangimu tersenyum. Menghalangimu menikmati senja. Menghalangimu merasakan indahnya lukisan sore di angkasa. Menghalangimu bahagia.

Aku..

Biar kutebak. Kau teruskan saja mengalirkan bulir itu. Alirkan semua kau pendam. Ah, biar kuhitung.
Satu bulir kemarahan. Satu bulir kebencian. Satu bulir kekesalan. Satu bulir kekecewaan. Satu bulir kesalahan. Satu bulir kekerasan. Satu bulir kejahatan. Satu bulir balas dendam. Satu bulir sakit hati. Satu bulir permusuhan. Satu bulir penolakan. Satu bulir penyesalan. Dan, satu bulir kedamaian.

Eh, yang terakhir itu, bisakah kau tetap membiarkan dia disana?

Apa?

Bulir kedamaian. Biarkan dia tetap bersamamu. Jangan kau alirkan.

Kenapa?

Kau butuh itu. Kau butuh bulir kedamaian untuk dirimu sendiri dan untuk setiap makhluk lain yang kau temui.

Aku tidak butuh. Aku hanya ingin mengeringankan mata ini agar bulir-bulir itu tidak pernah keluar lagi.

Jangan. Itu sama saja kamu hidup tapi mati. Bulir kedamaian itulah yang membuatmu hidup. Membuatmu bangkit kala terjatuh. Membuatmu memaafkan kala disakiti. Membuatmu menerima kala ditolak. Membuatmu memberi kala diminta. Membuatmu baik kala diperlakukan buruk.

Bulir kedamaian juga yang akan senantiasa mengingatkanmu bahwa api hanya takluk pada air. Kalau api berbalas api, tentu hanya aranglah yang tersisa. Begitu juga tangan balas tangan, kaki balas kaki, mulut balas mulut, rambut balas rambut, tentu cacatlah semua manusia.

Bukankah lukisan langit itu tampak indah karena perpaduan warnanya? Mega merah jingga kuning keemasan, berpadu putihnya awan dan birunya langit. Warna-warna itu tidak saling berebut, tapi justru saling melengkapi. Apa jadinya kalau lukisan itu hanya berwarna merah saja, biru saja, atau putih saja? Bisa jadi tetap indah, tapi hampa.

Sama dengan dunia. Dunia sejatinya hanyalah kumpulan warna. Warnamu dengan warnaku jelas beda. Warnamu dengan warnanya juga beda. Warnaku, warnamu, warnanya, warna mereka, semua tak ada yang sama. Ketidaksamaan itulah sumber kelebihan dan kekurangan.

Bayangkan kalau warna-warna itu saling berebut, saling beradu, saling membenci, dan saling memusuhi. Apa jadinya dunia ini? Coba bayangkan juga kalau semua warna itu hidup berdampingan, saling melengkapi kelebihan dan kekurangan. Apa yang akan terjadi pada dunia ini?

Dari benci, kita belajar mencintai. Dari luka, kita belajar mengasihi. Dari derita, kita belajar membahagiakan. Dari kurang, kita belajar menyempurnakan. Dari dendam, kita belajar mendamaikan.

Itulah kenapa kau harus mencintai semua warna. Peluk semua warna itu penuh cinta kasih. Seperti kehangatan ibu mendekap anak-anaknya. Seperti menyiram aneka bunga di taman tanpa pilih kasih. Dengan begitu kamu bisa menerima, menyayangi, dan mencintai warnamu apa adanya.

Betapa indah dan sempurnanya dunia bila kita bisa saling menerima. Hidup seakan sederhana tapi bahagia. Sesederhana kawanan burung yang akan kembali ke peraduan itu. Mau berkawan satu, dua, bahkan tak berkawan pun, ia tetap mengangkasa.


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post