Makan Matematika

27 Mar 2014

matem Source: Here

Jadwal padat yang harus dilakoni santri memang tidak bisa dipungkiri. Mulai bangun jam 3 pagi sampai tidur jam 11 malam, dilalui dengan sederet rutinitas yang tak memberi ruang santai. Pernah saya ceritakan pada postingan dulu, bahkan hari libur pun tidak bisa benar-benar libur.

Justru hari libur itu moment berharga untuk semua organisasi beraksi. Saya sampai bingung, kok bisa adaaaaa saja kegiatannya.

Menyiasati seabreg jadwal itu, sering membuat saya telat makan. Apalagi kalau saya melewatkan jadwal makan bersama kawan-kawan sekamar asrama, pasti nafsu makan langsung hilang. Makan sendirian kan kurang nikmat. Tidak heran catatan dokter untuk saya di rumah sakit itu berlembar-lembar.

Demi bisa memulihkan nafsu makan, saya punya ide unik. Lebih tepatnya ide iseng. Biar makan bisa nafsu, saya harus gembira. Biar saya gembira, saya harus melakukan sesuatu yang saya senangi. Nah, itu kata kuncinya!

Semasa SMA, saya mencintintai Matematika seakan lebih dari segalanya. Saya spontan berpikir, “kalau sambil ngedate bareng kekasih, mungkin makan akan selalu terasa nikmat”. Jadilah ide iseng itu. Saya makan sambil ngedate sama kekasih: Matematika.

Bukan. Bukan Matematika-nya ikut makan, atau saya suap-suapan sama Matematika. Bukan itu. Tapi saya makan sambil mengerjakan soal-soal Matematika.

Rasanya? Nikmat sekali! Bahkan Matematika lebih nikmat dari lauk ternikmat yang ada di pesantren. Seur! Meski sering diledek sama teman-teman, “Kamu makan nasi atau Matematika?”. Biasanya saya jawab enteng sambil nyengir, “Dua-duanya!”.

Sayangnya selepas SMA saya mengambil jurusan yang tidak ada Matematika-nya. Jadi dengan sangat terpaksa kami LDM-an deh! Long Distance Marriage, :D

Sobat punya kisah unik dan tak terlupakan juga selama nyantri? Yuk, ikutan Giveaway “A Moment in Pesantren”. :)

Kalau mau lebih banyak hadiah, ikutan Triloginya aja, sob!


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post